TonraNews-Moskow, Andi Asrul Syam, penggila bola asal Tonra yang rela terbang 22 jam ke Rusia untuk menyaksikan langsung ajang paling bergengsi dalam dunia sepak bola, World Cup 2018 yang berlangsung 14 Juni – 15 Juli 2018.
Di sela-sela laga antar negara,
Andi Asrul menikmati hal lain di luar stadion. Sesaat setelah mendarat di
bandara Domodedove 21 Juni 2018, ia dan rekan-rekannya lalu menyusuri kota
tersebut mulai dari lapangan merah sebagi alun-alun utama tempat diadakannya
festival-festival internasional di kota Moskow, GUM mall terbesar, Kremlin
sebagi pusat pemerintahan serta museum Lenin.
Setelah berada diantara ribuan
manusia, Andi Asrul merasakan bahwa perhelatan piala dunia bukan hanya soal bola,
piala dunia adalah tempat bertemunya cerita dan rasa. Hal itu sangat terasa
ketika bertemu supporter asal Palestina, negeri yang masih terjajah hingga kini.
Walau mereka tak bebas bermain bola, tapi pencinta bola asal Palestina tersebut
datang ke Rusia dengan senyum tegar dan tetap bersemangat mengibarkan bendera
Palestina di arena World Cup 2018 untuk menunjukkan pada dunia bahwa masih ada negara
yang tak bebas bermain sepak bola, olah raga yang paling digemari oleh penghuni
bumi.
Ayah
tiga anak ini lalu berpindah ke Saint Petersburg dengan cuaca yang lebih
bersahabat dibanding Moskow, Palace Square yang dikelilingi hermitage dan pusat
pemerintahan menjadi ikon dari kota ini. Ia tak bisa menyembunyikan
kekagumannya pada Sang Pencipta saat melihat cakrawala memerah di ufuk kota
Saint Petersburg, sang surya baru saja tenggelam ketika jarum jam sudah
menunjukkan pukul 23:13 waktu setempat. Ia pun berkesempatan menyaksikan buka
tutup Palace Bridge, menikmati white night, malam yang tak pernah gelap walau
waktu sudah menunjukkan pukul 1:40 dini hari tapi langit serasa masih menjelang
magrib
Menurut Andi
Asrul, Rusia yang telah mendapatkan kepercayaan dari FIFA menggelar World Cup
2018 yang merupakan salah satu kegiatan olahraga terbesar setelah Olimpiade,
telah sukses menjadi tuan rumah dengan sangat baik.
Semua pemberitaan negatif mengenai Rusia yang membayanginya sebelum pergelaran World Cup 2018 seolah sirna pada saat dia dan rekan-rekannya menginjakkan kaki di negeri beruang merah tersebut.
Warga Rusia bisa membuktikan bahwa mereka bukanlah masyarakat yang dingin, arogan ataupun tidak ramah dengan pendatang. Walaupun tidak banyak warga Rusia yang mampu berbahasa Inggris dengan baik tapi mereka tetap berupaya untuk memberikan bantuan kepada para turis atau pendatang, baik lewat bahasa tubuh maupun aplikasi translate.
Untuk pertama kalinya pula dalam pergelaran berkelas dunia, disediakan sebuah kartu yang memiliki banyak kemudahan. Seluruh moda transportasi digratiskan, termasuk visa masuk Rusia pun digratiskan. Seorang warga USA yangg kebetulan ditemuinya di perjalanan kereta antar kota bahkan sangat terkejut dengan fasilitas visa gratis ditengah hubungan yang kurang baik antara Amerika dan Rusia.
Semua pemberitaan negatif mengenai Rusia yang membayanginya sebelum pergelaran World Cup 2018 seolah sirna pada saat dia dan rekan-rekannya menginjakkan kaki di negeri beruang merah tersebut.
Warga Rusia bisa membuktikan bahwa mereka bukanlah masyarakat yang dingin, arogan ataupun tidak ramah dengan pendatang. Walaupun tidak banyak warga Rusia yang mampu berbahasa Inggris dengan baik tapi mereka tetap berupaya untuk memberikan bantuan kepada para turis atau pendatang, baik lewat bahasa tubuh maupun aplikasi translate.
Untuk pertama kalinya pula dalam pergelaran berkelas dunia, disediakan sebuah kartu yang memiliki banyak kemudahan. Seluruh moda transportasi digratiskan, termasuk visa masuk Rusia pun digratiskan. Seorang warga USA yangg kebetulan ditemuinya di perjalanan kereta antar kota bahkan sangat terkejut dengan fasilitas visa gratis ditengah hubungan yang kurang baik antara Amerika dan Rusia.
Banyak yang mengira bahwa biaya hidup di Rusia
cukup tinggi, namun ternyata tidaklah demikian. Untuk makan dengan paket happy
meals plus souvenir World Cup 2018 buat anak-anak, kita cukup merogoh kocek 134rub
atau sekitar Rp. 32.000, relatif sama dengan di Indonesia. Penginapan sekelas
hostel rata-rata berkisar Rp. 150.000 per malam. Seluruh moda transportasi
dapat diakses dengan biaya sekitar 30-40 rub (Rp. 7000 – Rp. 10.000) untuk
sekali jalan dengan konektifitas antar moda yang sangat baik.
Penghasilan
rata-rata masyarakat Rusia hampir sama dengan masyarakat Indonesia. Andi Asrul sering
mengajak warga Rusia yang ditemuinya untuk berkunjung ke Indonesia sambil mengatakan
bahwa budget perjalanannya ke Rusia hanya berkisar Rp. 12-15 juta, namun
sebagian warga tersebut masih menganggap bahwa biaya tersebut masih mahal bagi
mereka, termasuk bagi mereka yang berprofesi sebagai dokter sekalipun.Setelah 2 minggu bersama dengan kemeriahan pergelaran piala dunia, keriuhan para suporter dari Amerika Latin yang memenuhi hampir seluruh penjuru Rusia, akhirnya Andi Asrul dan rekan-rekannya harus kembali ke negeri Indonesia yang tercinta. Mereka berharap ada kesempatan lain bisa kembali ke Rusia. Saatnya kembali bekerja dan menabung untuk pergelaran Euro 2020.
Masih banyak pengalaman yang bisa diceritakan dari Rusia tapi mungkin lebih baik disajikan dengan secangkir kopi. Bagaimana pun indahnya negeri orang, masih belum bisa mengobati kerinduan akan Coto Makassar dan Pallubasa.
Spasibo Russia....



